Food
Cara Keliru Memotong Tumpeng, dan 5 Fakta Lain tentang Nasi Tumpeng
SHARE THIS POST
0 0 0 0

Nasi Tumpeng biasa disajikan untuk suatu perayaan, entah itu selamatan (untuk meminta keselamatan atau kelancaran suatu acara yang akan dilakukan) atau syukuran (untuk mengucap syukur atas sesuatu yang telah terjadi). Tidak heran, nasi tumpeng sering dihidangkan saat perayaan 17 Agustus-an sebagai ungkapan syukur atas kemerdekaan yang telah dicapai.

Tumpeng sendiri adalah akronim dari kalimat berbahasa Jawa, “Yen meTu kudu meMPENG” artinya ‘ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat’, yang memiliki makna yaitu ketika keluar (lahir) manusia harus menjalani kehidupan Tuhan dengan semangat yakin, fokus, dan tidak mudah putus asa, demikian menurut Dr. Ari Prasetiyo, SS, MSi, dosen Sastra Jawa di Universitas Indonesia, seperti dikutip KompasTravel. Hanya saja, meskipun sudah sering menghadiri perayaan yang diakhiri dengan pemotongan tumpeng, masih sedikit yang kita ketahui mengenai filosofi nasi tumpeng. Agar kesalahan ini tidak terus berlanjut, mari kita cari tahu fakta tentang nasi tumpeng berikut ini.

Sumber: Flickr

Bentuknya kerucut, simbol Tuhan yang Maha Esa

Murdjati Gardijito, peneliti di pusat studi pangan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengatakan bahwa bentuk tumpeng yang kerucut, lebar di bawah dan runcing di atas, adalah representasi dari Gunung Mahameru di India yang dianggap sebagai tempat bermukimnya para dewa.

“Bagian atas tumpeng hanya terdiri dari satu butir nasi. Itu adalah simbol dari Tuhan yang Maha Esa. Makin ke bawah adalah umat dengan berbagai tingkat kelakuannya. Makin banyak adalah umat yang kelakuannya tidak begitu baik, yang sempurna hanya sedikit,” jelas Murdjati pada Kompas Travel.

Sumber: Pinimg

Tujuh macam lauk yang menyertai

Lauk yang diletakkan horisontal melambangkan hubungan manusia dengan sesama, sedangkan keragaman lauk pauknya menandakan kehidupan dunia yang kompleks. Lauk nasi tumpeng merupakan simbol sumber daya alam dari laut, darat, dan udara. Jumlah lauk umumnya tujuh macam, dengan kombinasi rasa asam, manis, pahit, yang menyimbolkan kehidupan di dunia. Tidak ada ketentuan khusus mengenai jenis lauk-pauk yang menyertai nasi tumpeng. Namun, biasanya terdiri atas abon, perkedel, ayam goreng, telur dadar, timun, dan daun seledri. Alternatifnya adalah kering tempe, serundeng, urap kacang panjang, atau ikan asin.

Sumber: Flickr

Beda tumpeng kuning dan tumpeng putih

Nasi tumpeng yang menggunakan nasi kuning atau nasi putih ternyata memiliki makna tersendiri. Kuning, atau warna emas, melambangkan kemuliaan yang megah, kekayaan dan moral yang luhur. Tumpeng kuning biasanya digunakan untuk syukuran atas peristiwa yang menggembirakan, seperti kelahiran, tunangan, atau pernikahan. Sedangkan putih, yang dikenal sebagai simbol kesucian, digunakkan untuk acara-acara yang dianggap sakral.

Sumber: Flickr

Memotong tumpeng dari bagian bawah

Wajar saja kalau Anda mengira cara memotong tumpeng adalah dari puncaknya, karena itulah yang umumnya dilakukan oleh kebanyakan orang. Hal ini rupanya dipengaruhi oleh budaya Barat saat memotong kue. Memotong tumpeng dari bawah ternyata tidak sesuai dengan filosofi dari bentuk tumpeng yang kerucut dan melebar ke bawah. “Kalau dipotong puncaknya berarti memotong hubungan umat dengan Tuhan. Kalau dipotong atasnya juga lauknya tak kena”, kata Murdjati.

Sumber: Flickr

Dibagikan pada orang yang dihormati

Saat syukuran atau selamatan, pucuk tumpeng biasanya dipotong dan diserahkan kepada orang yang dianggap paling penting, terhormat, dimuliakan, atau yang dituakan di antara para tamu sebagai ungkapan rasa hormat kepada orang tersebut. Setelah itu barulah semua yang hadir diminta turut menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur atas kebersamaan yang dimiliki.

Sumber: Wikimedia

Cara makan tumpeng

Karena merupakan bagian dari suatu perayaan, nasi tumpeng harus disantap bersama-sama, yaitu diambil dengan tangan mulai dari bawah. Cara ini membuat pucuk tumpeng terus turun sampai akhirnya menjadi satu dengan dasarnya. Hal ini memberi makna bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembalinya semua mahluk. Oh ya, jika tak ingin menikmati tumpeng dengan tangan, Anda bisa memakai sendok seperti biasa. Namun, tetaplah menyantap tumpeng dari bagian bawah sesuai filosofinya.

Semoga fakta-fakta tentang nasi tumpeng ini membuat Anda semakin memahami makna perayaan yang Anda lakukan.

 
This Page is Under Construction