Family
Menang Kalah Itu Biasa, Yuk Ajarkan Anak tentang Kompetisi!
SHARE THIS POST
0 0 0 0

Banyak orangtua yang rajin mendaftarkan anak mengikuti kompetisi untuk memberinya pengalaman. Namun, anak jadi sering merasa kecewa atau malu ketika kalah, lalu enggan mengikuti lomba lagi. Padahal, mengikuti lomba bukan hanya dilakukan untuk mengumpulkan piala atau medali, tetapi juga membantu anak mengembangkan keterampilan penting yang akan berguna saat mereka dewasa. Contohnya, belajar bergiliran, berempati, atau tekun dalam menjalani sesuatu.

Karena itu, jangan sampai semangat anak maupun orangtuanya untuk berkompetisi jadi surut karena kalah. Sebab, ada banyak manfaat mengajarkan anak tentang kompetisi, yaitu:

Sumber: Lippo Mall Kemang

Tampil di depan banyak orang sambil disoraki, bukan hal yang mudah bagi anak. Tetapi, bagaimana ia berani tampil di atas panggung untuk memamerkan kemampuannya menyanyi atau menari adalah hal yang lebih penting. Bahkan orang yang sering menang masih merasa cemas setiap akan tampil. Keberanian yang terlihat bukan karena mereka tidak takut, melainkan karena dapat mengatasi ketakutannya.

Sumber: Pejaten Village

Anak-anak yang masih kecil biasanya akan merasa terpukul ketika kalah dalam perlombaan, lalu menangis karena begitu kecewa. Namun, kekalahan justru menjadi momen bagi orangtua untuk mengajarkan bahwa kalah itu juga perlu agar anak tahu kelemahannya. Ia juga belajar apa kelebihan lawan, sehingga bisa belajar untuk menjadi lebih baik.

Sumber: Plaza Medan Fair

Sebaliknya, memenangkan pertandingan bukan hanya memberikan anak rasa pemenuhan diri, tetapi juga berempati pada teman yang kalah. “Kompetisi yang sehat itu berarti menjadi teman yang baik dan mendukung yang lain, meskipun kita kalah,” kata Liz Morrison, terapis anak dan remaja. Minta anak membayangkan bagaimana rasanya kalah, lalu ajak ia pura-pura menghibur teman yang kalah agar tidak kecewa lagi.

Sumber: Eljohn Radio

Menang bukan satu-satunya hal yang harus dicapai dalam suatu kompetisi, melainkan juga melihat batas kemampuan anak. Dukung anak saat mereka harus menghadapi tantangan, dan secara rutin ingatkan kembali bahwa kalah itu tidak masalah asalkan mereka sudah memberikan upaya semaksimal mungkin. Kemudian, tentunya, belajar dari pengalaman tersebut.

Sumber: Lippo Plaza Jogja

“Kompetisi membantu anak belajar bahwa bukan yang terbaik lah yang selalu menang, melainkan yang selalu bekerja keras,” kata Timothy Gunn, PsyD, ahli neuropsikologi anak dan pemilik Gunn Psychological Services, Inc, di Southern California. Saat anak menang atau kalah, jangan lupa selalu puji upayanya karena sudah rajin berlatih atau sudah rela mengorbankan waktu bermain untuk mempersiapkan diri.

Sumber: Grand Mall Bekasi

Manfaat lain mengajarkan kompetisi pada anak adalah, mengajak anak belajar menjadi anggota tim. Banyak permainan kerja sama yang melatih anak memecahkan masalah sebagai tim, dan membantu mereka berkorban demi kepentingan bersama. Dalam lomba-lomba 17 Agustusan, misalnya, anak saling memotivasi anggota timnya dan berusaha sekuat tenaga agar timnya menang. Kuncinya adalah menciptakan atmosfir yang mendukung persaingan yang sehat dan menyenangkan.

Sumber: Game Fantasia

Berusaha agar selalu menang dalam kondisi apapun bisa membuat anak tertekan. Agar situasi kompetisi menjadi sehat, bantu anak memahami bahwa tidak selalu menjadi juara itu hal yang normal. Jelaskan bahwa semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga anak pun bisa menemukan kelebihannya yang lain. Katakan, misalnya, “Walaupun kamu tidak menang lomba menggambar tadi, tapi kamu satu-satunya yang bisa mewarnai pakai cat air.”

  Nah, sudahkah Anda mengajarkan kompetisi pada anak?  
This Page is Under Construction