BEAUTY & FASHION
Mengenal Batik Kontemporer yang Populer di Kalangan Anak Muda
SHARE THIS POST
0 0 0 0

Sumber: Harpers Bazaar, Blogspot

Batik telah diakui dunia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Keistimewaan batik dengan nilai seni dan budaya tinggi memang tak perlu diperdebatkan lagi. Ada proses rumit dan panjang dalam pembuatan batik hingga menjadi sehelai kain cantik sarat makna juga nilai filosofis.

Sejak dikukuhkan UNESCO pada 2 Oktober 2009 sebagai warisan budaya dunia, pamor batik memang semakin terangkat. Tak sedikit anak muda yang kini makin tertarik berbatik dengan gaya lebih kekinian. Varian motif batik pun terus berkembang.

Sementara motif klasik seperti parang, truntum dan kawung masih jadi yang terpopuler, kini hadir pula motif batik kontemporer yang tercipta dari tangan-tangan kreatif desainer. Sejauh Mata Memandang menggebrak dengan batik bermotif ayam jago, yang secara tak terduga, banyak disukai kalangan muda.

Chitra Subyakto, stylist yang kini merambah ke dunia desain tekstil, yang mendirikan brand berkonsep unik ini pada 2014. Jika kamu ingat dengan gambar ayam jago di mangkok mie ayam, maka mungkin kamu sudah tak asing lagi melihat motif batik ikonik Sejauh Mata Memandang ini. Motif batik ayam jago terlihat simpel tapi memiliki unsur jenaka. Agar produk kain batiknya lebih universal dan bisa disukai berbagai kalangan, batik motif ayam jago pun dilukis pada kain dengan warna-warna primer yang mudah di-mix and match. Seperti merah, biru, putih dan hitam dalam wujud scarf, sarung bantal, tas hingga kain.

Meskipun motifnya tidak konvensional, batik ayam jago Sejauh Mata Memandang tetap melalui proses pembatikan tradisional. Tekniknya pun tetap memakai tulis atau cap dengan penggunaan malam. Lewat brand yang kini juga merambah tekstil tenun ikat, Chitra ingin menyampaikan pesan bahwa sesuatu yang telah eksis selama ratusan tahun, yakni batik, juga bisa mengikuti perkembangan zaman modern tanpa kehilangan identitas budaya.

Dari Sejauh Mata Memandang yang menghadirkan batik dalam bentuk motif ayam jago, ada Populo Batik dengan batik pipa rokok dan payung. Brand yang diusung duo desainer Bai Soemarlono dan Joseph Lim ini memadukan motif batik klasik seperti Kawung dan Gringsing dengan wujud tak umum. Sebut saja motif sisir, gunting, paisley hingga pipa rokok.

Berani keluar dari pakem, Bai dan Joseph bukannya tak mendapat kritikan. Modernisasi batik yang ditampilkan Populo Batik sempat dikritik dan dianggap telah melawan tradisi. Padahal, pengertian batik bukan sebatas pada motifnya saja. Sehelai kain bisa disebut batik –apapun bentuk motifnya– apabila dibuat menggunakan canting dan malam, dengan proses pewarnaan tradisional yang disebut nglorot. Sebuah teknik turun temurun yang selalu dilakukan Populo Batik dalam kreasi produk-produknya.

Kritikan pun tak membuat Populo Batik bereksplorasi menciptakan motif-motif baru. Tahun 2016 misalnya, Bai dan Joseph meluncurkan batik bertema Star Wars, ketika mereka diminta Disney untuk menciptakan koleksi khusus menyambut perilisan film Star Wars: Episode VII – The Force Awakens

Siapa sangka, kala itu Populo Batik sukses memadukan unsur tradisional dan futuristik yang menimbulkan decak kagum di kalangan penikmat fashion. Koleksi batik Star Wars hadir dengan palet hitam-putih berhias motif Gringsing dan Kecer Beras, berpadu apik dengan gambar karakter Star Wars seperti Darth Vader dan Yoda. Menariknya, semua motif kontemporer yang kental nuansa futuristik itu dikreasikan menggunakan teknik batik tulis dan cap.

Hingga kini, Populo Batik masih berpegang pada prinsip bahwa melestarikan kekayaan budaya tidak harus dilakukan dengan cara konvensional. Batik kekinian, modernisasi batik, batik kontemporer atau apapun sebutannya, merupakan wujud dari pemeliharaan budaya yang mengikuti perkembangan zaman.

This Page is Under Construction