Lifestyle
Para Inspirasi Atlet Muda Para Games
SHARE THIS POST
0 0 0 0

Malam pembukaan ajang olahraga atlet difabel se-Asia, Asian Para Games 2018 menyentuh hati semua orang yang menyaksikan. Linimasa ramai memberikan apresiasi setingginya untuk Para Inspirasi, manusia super yang berlaga di arena pertandingan olahraga 6-13 Oktober 2018 di Jakarta.

Para atlet Asian Para Games membawa harum nama bangsa dengan keterbatasan yang dimiliki. Para Inspirasi, sebutan untuk atlet Asian Para Games 2018 adalah teladan hidup sesungguhnya.

Ada semangat hidup berdaya bahkan berprestasi luar biasa dalam keterbatasan dirinya. Berprestasi di tingkat nasional dan internasional menunjukkan Para Inspirasi tidak terbenam dalam keterpurukan dan penderitaan. Hebatnya lagi, mereka tak meminta belas kasihan dari orang lain.

Banyak pelajaran berharga bisa kita ambil dari Asian Para Games 2018. Keterbatasan yang membawa serta banyak nilai seperti semangat pantang menyerah dan bangkit berdaya. Indonesia membuktikan di Asian Para Games setelah beberapa tahun sebelumnya, dengan menyabet juara umum memperoleh 40 medali emas.

Asian Para Games 2018 menjadi ajang penuh makna dari para atlet yang bersemangat membawa nama bangsa dari 42 negara peserta di Asia. Berdasarkan catatan penyelenggara, INAPGOC, hingga saat ini telah tercatat sekitar 3.886 atlet yang akan turut serta di APG 2018, 300-nya sebagai atlet perwakilan Indonesia. Mereka akan berkompetisi di 18 cabang olahraga meliputi panahan, para atletik, bulutangkis, catur, balap sepeda, goal ball, judo, boccia, lawn ball, angkat berat, menembak, tenis meja, bola voli kursi roda, tempin boling, basket, tenis kursi roda, dan anggar.

Siapa saja atlet difabel Indonesia yang muda, tangguh, gigih, siap membela NKRI? Yuk dukung mereka.

Sumber: Detik.net.id, MetroTVNews.com

Jendi Pangabean

Di usianya yang 11 tahun kala itu, dia harus rela kehilangan satu kakinya. Jendi sebagai para atlet renang yang hanya memiliki satu kaki akibat kecelakaan yang dialaminya. Akan tetapi, satu kaki bukan penghalang untuknya berkarya di olahraga. Tak tanggung-tanggung, olahraga yang digelutinya renang.  Kakinya terpaksa diamputasi hingga pangkal paha karena kecelakaan.

Dokter yang menanganinya dan masih diingatnya hingga saat ini adalah perkataan sang dokter bahwa kakinya tidak dapat diselamatkan dan amputasi satu-satunya jalan.  Kondisinya ketika kecelakaan memang parah dan hampir kehabisan darah.  Lewat ukiran prestasinya, Jendi Pangabean mampu menjadi penguasa Asia Tenggara melalui olahraga renang.

Setelah kecelakaan terjadi, Jendi sempat meratapi nasib dan kondisinya, begitu pun keluarga besarnya yang kehabisan kata. Dalam kenestapaannya, Jendi menjalani hobinya berenang.  Alhasil, renang dengan satu kaki dia lakukan secara kontinu untuk menghibur diri.

Jendi akhirnya masuk ke klub renang di Palembang bernama Lumban Tirta. Dari klub itu, Jendi terus berkembang.  Pada tahun 2009, Jendi mulai menekuni dunia atlet renang. Bermula dari ikut pertandingan renang remaja hingga mengikuti Asian Para Games berlangsung di Myanmar, pada 2013.

Keterbatasannya tak menjadi penghalang. Pria kelahiran 10 Juni 1991 ini bersyukur atas kesempatan yang didapatkannya menjadi atlet dan renang sebagai pilihan juga hobi yang dilakukannya sejak kecil. Kini, dirinya menjadi pegawai Dispora Sumatera Selatan.

Sumber: Dewa303, Liputan6.com

Ni Nengah Widiasih

Atlet angkat berat difabel, Ni Nengah Widiasih, perempuan asal Bali yang menjadi salah satu atlet para games 2018 Indonesia.  Kursi roda menjadi teman setianya sehari-hari.

Ketertarikannya di dunia angkat berat bermula dari main-main saja. mencoba dan ikut-ikutan. Ketika dirinya jadi atlet angkat berat itu usianya masihlah sangat belia, sekitar 11-12 tahun (kelas 6 SD).  Juga kakaknya pun atlet angkat berat.  Bertanya-tanya Ni Nengah dalam hati, kalau memang angkat berat jadi jalannya. Dia pun sempat membayangkan betapa lelah dan beratnya angkat berat itu. Bersyukurnya, antara ragu dan ingin maju di angkat berat, dia berjumpa pelatih angkat berat, Ketut Mija. Dari Ketut Mija inilah Ni Nengah dipoles menjadi para atlet profesional.

Dalam keterbatasannya dengan topangan kursi roda, dia tak menyesali nasib. Jutsru prestasi yang ditorehkannya membawa dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Dalam kegigihannya, Ni Nengah Widiasih berhasil membuat bulu roma dan bulu kuduk berdiri bangga.  Tetesan keringatnya memberi keberkahan pada kehidupan pribadi, keluarga, dan negara.

Empat belas tahun bukan waktu sebentar untuk dirinya terus menerus ada di atas kursi roda. Tetapi, itulah kenyataannya. Ni Nengah tak keluar kata berkeluh kesah walau  terkadang  keringat membasahi tubuh. Inilah penerimaan atas hal-hal yang sudah diberikan Tuhan untuk dirinya.

Sumber: Ytimg, Tstatic

Muhammad Fadli Imammuddin

Balap sudah menjadi keseharian Fadli. Kehilangan satu kaki bukan penghalang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang tertunda. Fadli mengalami kecelakaan saat balapan di sirkuit Sentul Bogor, sekitar 2015. Salah satu kakinya diamputasi namun Fadli tak patah semangat. Dunia balap tak ditinggalkannya.

Fadli menjadi instruktur di Honda Racing School dan juga punya sekolah balap motor 43 Racing School. Bahkan, dia masih sering adu balap cepat dengan anak-anak asuhnya di motor 600 cc.

Karier di dunia balap motor memang akhirnya terhenti. Kini dia beralih ke balap lain, yaitu sepeda. Fadli menjadi atlet para games difabel Indonesia yang sangat diperhitungkan dan diandalkan di cabor Balap Sepeda ini. Kecelakaan hebat di balapan motor tak menghentikannya menjadi atlet hingga akhirnya kini beralih ke balap sepeda. Semangat juangnya tak pernah kendur demi mencapai cita-citanya.

Sumber: GroboganToday,

Sutrisno & Gunari Eko Jarot

Sutrisno merupakan atlet para games dari cabor panahan, sedangkan Gunari merupakan atlet para games dari cabor Anggar.  Sutrisno yang sehari-harinya bergelut dengan kursi roda tak mematahkan semangat untuk mengharumkan nama bangsa.  Begitu pula dengan Gunari. Kelainan satu kaki mengakibatkan Gunari harus menggunakan penyangga sebagai alat bantu berjalan.

Keduanya, untuk menghadapi Asian Para Games ini berlatih keras dan giat. Bagi mereka, kekurangan yang ada di dalam diri bukan hambatan. Justru  hal itu menjadi pemicu, bagaimana agar lebih baik dan berharga di mata warga.  Mereka tak malu dengan disabilitas yang mendera. Justru, Bupati Grobogan sangat mendukung keduanya berlaga di kancah Asia dan internasional.

Dukungan dari orang-orang terdekat yang membuat mereka kuat dan mampu bertahan. Pun semangat juang mereka pun tak pernah luntur karena ketidakberdayaan. Penghalang-penghalang  di depan, berhasil mereka tepiskan dan jauhkan. Di sinilah, kebahagiaan mereka terpancar tatkala Indonesia memanggil nama mereka dalam kekurangan. Semua bukan  sensasi tetapi bukti prestasi yang mereka jalani.

Salut untuk atlet muda Para Games yang gigih dan bersemangat. Selamat bertanding atlet Indonesia mengibarkan Sang Merah Putih dengan segala daya.

This Page is Under Construction