Family
Sekolah Dwibahasa Jangan Bikin Anak Lupa Bahasa Nasionalnya
SHARE THIS POST
0 0 0 0

Sumber: Freepik

Anak di era milenial saat ini dituntut untuk menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional agar kelak mampu bersaing di dunia kerja. Itu sebabnya orangtua menyekolahkan anak di sekolah dwibahasa (bilingual). Sekolah yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris pun semakin banyak. Bahasa Indonesia biasanya hanya menjadi “bahasa selingan”, hanya digunakan pada satu hari tertentu.

Sudah banyak studi yang memaparkan besarnya keuntungan menyekolahkan anak di sekolah dwibahasa. Anak-anak usia TK pun sekarang sudah mampu cas cis cus dalam Bahasa Inggris. Namun sebelum memasukkan anak ke sekolah dwibahasa, ada baiknya Anda tetap mempertimbangkan sisi buruk yang mungkin terjadi.

Tak dapat dipungkiri, masuk sekolah dwibahasa memberikan keuntungan bagi anak, yaitu:

Mengajarkan anak bahasa keduanya Kalau Anda hanya bisa berbahasa Indonesia, memasukkan anak ke sekolah dwibahasa menjadi cara terbaik mengajarkan anak bahasa keduanya. Bagaimana pun, tidak semua orangtua mampu berbahasa asing. Kalaupun Anda memahami bahasa asing, hal itu belum tentu dapat membuat Anda mengajarkan anak bahasa tersebut. Dengan masuk sekolah dwibahasa, anak akan terpapar bahasa asing setiap hari.

Sekolah dwibahasa menggunakan kedua bahasa secara seimbang Salah satu keuntungan utama menyekolahkan anak di sekolah dwibahasa adalah keseimbangan antara dua bahasa yang digunakan. Anak-anak akan dididik dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris setiap hari, yang membuat mereka mampu berbicara dan berpikir dalam dua bahasa.

Anak bisa membaca dan menulis dalam dua bahasa Ketika membesarkan anak bilingual, komunikasi pada awalnya merupakan pertimbangan utama. Meskipun begitu, berharap anak menguasai dua bahasa secara lisan dan tertulis, mereka juga perlu belajar membaca dan menulis. Masuk sekolah bilingual akan memastikan anak tidak hanya bisa berbicara, tetapi juga membaca dan menulis dalam dua bahasa (biliterate).

Anak belajar berpikir dalam dua bahasa Begitu Anda mulai berpikir secara alami dalam suatu bahasa, artinya kelancaran Anda sudah mencapai puncaknya. Anak-anak yang masuk sekolah dwibahasa juga akan dibiasakan berpikir dalam dua bahasa. Membaca, menulis, dan memecahkan masalah dalam dua bahasa setiap hari akan membantu mereka berbicara dengan mahir.

Nah, meskipun keuntungan masuk sekolah dwibahasa begitu besar, tetapi sebagai orangtua Anda perlu waspada juga dengan kerugiannya. Ini risiko jika masuk sekolah dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris:

Anak tidak konsisten memelajari bahasa keduanya Saat masih kecil, anak-anak lebih mudah menggunakan kedua bahasa di sekolah. Namun ketika masuk SMP atau SMA, situasinya menjadi berbeda. Tidak semua sekolah dwibahasa memberikan pendidikan seimbang dalam kedua bahasa. Seringkali ada bahasa yang dominan, kemudian ada bahasa kedua. Atau, anak pindah ke sekolah yang murni berbahasa Indonesia. Agar anak benar-benar menguasai dwibahasa, lisan maupun tertulis, sekolah harus konsisten mengajarkannya.

Anak mulai melupakan bahasa aslinya Risiko yang lebih besar dalam pendidikan dwibahasa adalah, anak mulai melupakan bahasa Indonesia karena merasa bahasa pengantar atau bahasa pergaulannya (lingua franca) lebih menarik. Keinginan orangtua yang begitu kuat agar anak fasih berbahasa Inggris akhirnya tidak menyisakan celah baginya untuk berbahasa Indonesia. Ironis bukan, jika anak Indonesia yang masih tinggal di Indonesia justru tidak dapat berbahasa Indonesia?

Bagi anak yang sebelumnya juga mengenal bahasa daerah dari orangtuanya, hal ini juga menjadi masalah besar karena akan menghadapi ancaman kepunahan bahasa. Jika anak tidak berhasil memahami bahasa aslinya, bahasa tersebut akan segera mati. Jangan biarkan apabila hal ini mulai terjadi pada anak Anda. Ingatlah bahwa di luar sekolah anak masih akan bersosialisasi dengan keluarga atau teman-teman yang berbicara Bahasa Indonesia. Sebagai anggota masyarakat, anak juga masih harus berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan tetangga, di toko, di tempat ibadah, atau di kantor-kantor pemerintahan. Agar anak tidak lupa bahasa aslinya, Bahasa Indonesia, tetaplah berbicara dalam Bahasa Indonesia pada anak saat berada di rumah. Begitu juga bila Anda masih menguasai bahasa daerah, ajarkan pula bahasa ini pada anak saat di rumah. Anda bisa “berbagi tugas” dengan suami: suami berbahasa Indonesia dan Anda berbahasa daerah saat berkomunikasi dengan anak. Jangan khawatir, anak-anak tetap akan berbahasa Inggris di sekolahnya. Jika hal ini Anda terapkan, anak bukan saja menjadi anak bilingual tetapi juga multilingual. Menguasai lebih banyak bahasa akan membuat Anda lebih cerdas dan mampu menguasai dunia.
This Page is Under Construction